Jakarta – Siapa yang tidak mengenal lagu Mas Bahlil Ganteng atau yang belakangan viral dengan sebutan MBG? Lagu pendek yang ramai di berbagai platform media sosial ini seolah memiliki daya tarik unik: sekali terdengar, nadanya langsung menempel di kepala dan terus berulang, bahkan ketika musiknya sudah tidak diputar lagi.
Fenomena lagu yang terus terngiang ini ternyata bukan hal baru dalam dunia psikologi. Menurut dokter spesialis kedokteran jiwa, dr. Lahargo Kembaren, kondisi tersebut dikenal dengan istilah earworm, atau secara ilmiah disebut Involuntary Musical Imagery (IMI).
Kondisi ini menggambarkan situasi ketika potongan lagu atau lirik secara spontan muncul berulang di dalam pikiran tanpa disadari dan sulit dihentikan.
“Lagu seperti Mas Bahlil Ganteng bisa cepat menempel di ingatan karena otak manusia memang cenderung mudah menangkap pola yang sederhana, berulang, dan memiliki unsur emosional ringan,” ujar dr. Lahargo dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/5/2026).
Rahasia di Balik Mudahnya Lagu Ini Diingat Menurut dr. Lahargo, lagu yang mudah viral dan terus terngiang biasanya memiliki beberapa karakteristik khusus yang membuatnya sangat mudah diproses oleh otak manusia, di antaranya:
Melodi sederhana dan mudah ditebak
Lirik pendek yang diulang-ulang
Irama ringan dan mudah diikuti
Sering muncul di media sosial secara berulang Mengandung unsur humor atau kesenangan
“Ketika seseorang terpapar berulang kali melalui media sosial seperti TikTok atau Instagram Reels, otak akan menganggap informasi tersebut penting sehingga disimpan lebih kuat dalam memori jangka pendek,” jelasnya.
Secara biologis, saat seseorang mendengarkan musik, beberapa bagian otak bekerja secara bersamaan, mulai dari pusat pendengaran, memori, hingga sistem emosi yang memicu rasa senang melalui pelepasan dopamin.
“Ibarat jalan yang sering dilalui, semakin sering dipakai, semakin kuat jalurnya. Begitu juga dengan jalur saraf di otak. Akhirnya, meski lagu sudah berhenti, otak seperti memutarnya kembali secara otomatis,” tambahnya.
Fenomena yang Wajar dan Dialami Banyak Orang
dr. Lahargo menegaskan bahwa kondisi ini merupakan hal yang normal dan dialami hampir semua orang. Earworm bukan tanda gangguan mental, melainkan bagian dari cara otak bekerja dalam memproses informasi audio yang menarik.
“Bukan berarti otak kita hanya menyimpan hal penting secara logis. Kadang yang lucu, unik, atau sering muncul justru lebih mudah menempel,” ujarnya.
Fenomena ini dikenal juga dengan efek paparan berulang (mere exposure effect), di mana sesuatu yang sering didengar atau dilihat akan terasa lebih akrab dan mudah diingat.
Dampak dan Cara Menghilangkan Lagu dari Kepala Meski tidak berbahaya, earworm bisa mengganggu jika muncul saat seseorang membutuhkan fokus tinggi, seperti belajar atau bekerja.
Berikut beberapa cara untuk menguranginya:
Dengarkan lagu sampai selesai agar otak merasa “tuntas”
Alihkan perhatian dengan aktivitas yang membutuhkan fokus Ganti dengan lagu lain yang lebih menenangkan
Jangan terlalu dipaksa untuk melupakan, karena justru bisa memperkuat ingatan
Menurutnya, hingga saat ini tidak ada bukti bahwa fenomena lagu viral seperti ini berdampak buruk bagi kesehatan mental seseorang yang sehat.
“Lagu viral itu seperti tamu singgah. Karena terus diputar ulang oleh algoritma, akhirnya dia terasa tinggal lebih lama di kepala kita,” pungkasnya.
